Ngobrol Bareng Aridus “Ketika Balian Jadi Walikota”
Malam kemaren, jumat 26 Juni 2009. Manikaya Kauci menggelar acara ngobrol bareng Pak Aridus pengisi rubrik obrolan bale banjar di media Bali Post. Tema obrolan yang diusung malam itu memang agak janggal yakni ” Ketika Balian jadi Walikota”, tak heran kemudian ada diantara peserta diskusi bertanya, siapa sih yang dimaksud dengan balian yang mau jadi wali kota itu?.
Sebenarnya tema tersebut bukanlah arti sebenarnya, begitu saicu [manikaya] menjelaskan sebagai penggagas kegiatan tersebut. Lebih lanjut saicu menjelaskan, kata balian di sini mempunyai tiga terminologi. Pertama, balian adalah juga warga negara Indonesia, andaipun nanti ada balian yang berkeinginan untuk maju sebagai pejabat publik baik di eksekutif maupun legislatif, adalah hak dia sebagai warga negara. Terninologi kedua, kata Balian bisa berarti juga me-alih alihan, artinya dalam mencapai satu kekuasaan, seseorang bisa mendapatkannya dengan segala cara, apakah dengan money politik, ataupun menggunakan kekuatan kelompok massa untuk melakukan intimidasi mempengaruhi pilihan masyarakat dalam sebuah pemilihan umum, atau pilkada. Sedangakan terminologi ke tiga, paling tidak Balian sebagai predikat yang disandang, sudah ada dalam konsepsi berpikirnyan niatam baik untuk menolong orang, dibandingkan dengan kebanyakan poltisi yang mengejar jabatan/kekuasaan tanpa di landasi niatan baik untuk berpikir tentang nasib rakyat.
Sependapat dengan saicu, Pak Aridus mengatakan “tema ini cukup luar biasa, anggap saja judul ini sebuah parodi/sindiran. Bagaimana jabatan politik ini banyak yang mengincar. Kalau dulu jabatan politik cukup mulia, jabatan ini pun diraih dengan satu yang namanya dasar ideologi, dan orang yang mendapatkannya harus punya kredibilitas. Tapi sekarang mengalami satu reduksi yang cukup luar biasa, ujung-ujungnya Ideologi adalah uang. Semua sektor kehidupan sudah di komodifikasikan, tidak hanya di bidang politik sosial budaya, termasuk ruang-ruang agamapun sudah di komodifikasikan, semuanya sudah dijadikan barang dagangan. Sesuai dengan tema, coba kita lihat sekarang orang yang tidak punya uang tidak mungkin akan bisa masuk dalam ranah politik”, aridus menandaskan.
Lebih lanjut Pak Aridus mengatakan, ” bahwa sekarang ini kita tidak mengarah ke demokrasi lagi, atau otokrasi, melainkan sudah mengarah ke Plutokrasi. Jadi hanya orang punya duit saja, bisa main di wilayah politik. inilah yang kemudian terkait dengan tema istilah balian atau me alih-alihan uang kemudian jadi panglima utama dalam proses perebutan politik di Indonesia”.
Lain halnya dengan ngurah karyadi seorang aktivis sosial, mencoba menimpali, “ngomongin soal balian hal ini tidak lepas dari politik identitas. Kalau di bali misalnya ada balian, di jawa ada jawaan, dan yang kedua, balian dalam arti mampu mampu mengobati. Coba sekarang kita lihat, banyak pergantian kepemimpinan tapi toh tidak mampu meyelesaikan persoalan bangsa ini, makanya di perlukan seorang balian. Yang sebetulnya di alam bawah sadar kita terkonsep bahwa kita membutuhkan seorang ratu adil”.
to be continued…
February 27th, 2010 at 6:05 am
Hello, as you may already noticed I’m new here.
In first steps it’s really nice if someone supports you, so hope to meet friendly and helpful people here. Let me know if I can help you.
Thanks and good luck everyone!
March 3rd, 2010 at 9:58 am
thanks…..may be some day you can visit to manikaya kauci, disscuss about something
June 2nd, 2010 at 4:43 pm
Really cool article you have here. I’d like to read more concerning such topic. Thnx for giving such data.