Parpol Mesti Bangun Komunikasi yang Lebih Efektif
Denpasar (Bali Post), Jumat, 26 Desember 2008
Yayasan Manikaya Kauci menyelenggarakan diskusi publik ‘Mendorong Peran Parpol Melalui Komunikasi yang Lebih Efektif dalam Rangka Identifikasi Aspirasi Masyarakat atas Kehidupan yang Lebih Demokratis’ Rabu (24/12) di Sanur Paradise Plaza Hotel & Suites. Diskusi yang dipandu pengamat politik Drs. Nyoman Wiratmaja, M.Si. tersebut bertujuan untuk mematangkan temuan empat kali Focuss Group Discussion (FGD) — bekerja sama dengan The International Republican Institute (IRI).
Kegiatan yang mengundang sekitar 100 peserta itu menghadirkan dua narasumber yakni Direktur Eksekutif Yayasan Manikaya Kauci Gunadjar, S.H. dan akademisi Ilmu Sosial Politik UGM Yogyakarta Dr. Ketut Putra Erawan.
Gunadjar mengatakan, parpol sesungguhnya bisa menjadi ‘jembatan’ penyalur aspirasi masyarakat untuk dikelola dan menjadi dasar perjuangan dalam lembaga legislatif. Sebab, aspirasi konstituen dan aspirasi anggota parpol merupakan mandat real yang wajib diperjuangkan oleh parpol melalui fraksinya di legislatif untuk bisa diformulasikan menjadi sebuah produk kebijakan publik.
Kondisi skeptis dan pragmatis masyarakat atas keberadaan parpol ditengarai karena ada kecenderungan parpol hanya berkiprah menjelang pilkada dan pemilu. Kondisi ini mencerminkan adanya kebuntuan dalam komunikasi internal parpol dan kebuntuan komunikasi parpol dengan konstituennya.
Hasil temuan FGD menunjukkan, dengan mengusung calon pejabat publik dalam pilkada atau calon legislatif dalam pemilu legislatif, parpol menempatkan masyarakat pemilih tidak lebih sebagai objek politik saja. Ini dapat memunculkan sikap apriori masyarakat pada parpol. Akibatnya, muncul keraguan pada segala usaha pengurus parpol dalam menyelenggarakan berbagai agenda program parpol. ‘Terkait dengan kondisi ini ada harapan cukup besar dari konstituen atau masyarakat agar parpol lebih proaktif untuk menyerap dan memperjuangkan aspirasi mereka,’ katanya.
Sementara masing-masing parpol secara intern telah memiliki mekanisme sendiri dalam berkomunikasi dengan konstituennya. Kebanyakan parpol melakukan komunikasi dengan konstituen hanya sebatas kegiatan informal dengan memanfaatkan hari-hari besar nasional dan mendekati pesta demokrasi dibungkus dengan kegiatan sosial. Kenyataan ini menunjukkan relasi komunikasi yang terbangun antara parpol dan konstituen bersifat sesaat.
Diskusi itu cukup hangat, banyak peserta yang terlibat. Nyoman Mardika dari KPID, misalnya, mengatakan ada proses pembuntuan komunikasi antara parpol dengan konstituennya. Karena itu perlu diciptakan komunikasi yang intensif. Ia mempertanyakan bagaimana upaya meminimalkan pragmatis politik menuju politik yang ideal. (08)
January 5th, 2010 at 6:28 am
belajar banyak
March 10th, 2010 at 2:35 am
Bali has such a relaxed atmosphere, and the people are so friendly, that you may not be on the lookout for scams. It’s hard to say when an ‘accepted’ practice such as over-charging becomes an unacceptable rip-off, but be warned that there are some people in Bali (not always Balinese) who will engage in a practised deceit to rip you off. Most Balinese would never perpetrate a scam, but it seems that very few would warn a foreigner when one is happening. Be suspicious if you notice that bystanders are uncommunicative and perhaps uneasy, and one guy is doing all the talking.
April 23rd, 2010 at 11:23 pm
I wanted to thank you for this great read!! I definitely enjoying every little bit of it
I have you bookmarked to check out new stuff you post. Please visit my business blog http://www.wholesalesarong.com/blog/ when you have time.