Hentikan “Basa-Basi” Politik Saatnya Bertindak Benar Selamatkan Bumi.

Siaran Press Bersama
Koalisi untuk Selamatkan Bumi
Special Session of The UNEP Governing Council/Global Ministerial Environment Forum (GC-UNEP) ke 11 yang berlangsung di Nusa Dua Bali pada tanggal 22-26 Februari 2010 harus membebaskan diri dari basa-basi perundingan, politik yang didominassi para pendukung neo-liberalisme. Dominasi“Swine System”, yang kian gendut, malas, dan rakus –yang kini tampil seolah-olah peduli pada krisis sosio-ekologis. Sebuah krisis ‘luar biasa’ (extra-ordinary) saat ini berlangsung di planet bumi, karenanya memerlukan penanganan luar biasa negara dan segenap para pihak pengampu kepentingan.
Miliaran peduduk Planet Bumi menanti langkah konkret negara, melalui para menteri lingkungan hidup sedunia untuk membuat kesepakatn politik yang lebih nyata dan operasional untuk membalikan krisis sosio-ekologis dan krisis iklim setalah perundingan demi perundingan dibanyak forum internasional ‘gagal’ mengatasinya, termasuk kegagalan pada perundingan di Kopenhagen.
Melalui kesempatan ini kami mendesak pada para menteri lingkungan hidup dan segenap anggota delegasi sedunia untuk:
Pertama, memberi makna yang benar dan mendasar terhadap ekonomi hijau (green oconomic), kecenderungan yang terjadi saat ini adalah label hijau hendak diberikan pada ekonomi neoliberal yang telah terbukti gagal menjamin keselamatan hidup kolektif penduk dunia, bahkan ekonomi neoliberal menjadi pemicu krisis sosio-ekologis yang semakin kritis.
Kedua, makna yang benar atas green ekonomi adalah suatu usaha yang sungguh-sungguh dan sistematis untuk membalikan krisis global yang berlangsung serta mengakhiri rezin ekonomi neoliberal yang hanya mengguntungkan segelintir orang saja.
Ketiga, menghentikan upaya legalisasi penghancuran keaneka ragaman hayati dengan skema dan pertimbangan apapun termasuk tukar guling kawasan yang popular disebut biodiversity offset yang saat ini mengemuka dalam perundingan-perundingan global.
Khusus bagi Delegasi Pemerintah Indonesia, saatnya untuk menhentikan gaya diplomasi ‘pengemis’, sekaligus kami mendesak untuk:
Pertama, menghentikan praktik peracunan warga negara lewat pelarangan penggunaan herbisida dan pestisida yang tiap tahun mengalami peningkatan secara signifikan dan berisiko tinggi baik di perkebunan besar kelapa sawit dan pertanian tanaman pangan.
Kedua, secara sungguh-sungguh melarang impor limbah berbahaya beracun yang saat ini masih masuk ke Indonesia baik legal maupun illegal.
Ketiga, melarang masuknya barang-barang yang menggunakan limbah berbahaya beracun termasuk barang-barang dari Jepang dan China yang saat ini telah terikat perjanjian perdegangan bebas dengan Indonesia
Keempat, memberantas perdagangan merkuri serta memenjarakan siapa saja yang terlibat dalam proses perdagangan limbah berbahaya beracun (B3), termasuk perdagangan merkuri yang terus menjamur.
Cukup sudah! Stop its! Ya basta! Monto gen! “Basa-Basi” politik pasar dengan logika Business as Usually (BAU) tidak pernah akan pernah menyelesaikan persoalan. Pasar perlu ada aturan yang jelas dan mengikat dengan sanksi yang tegas, pajak lingkungan, serta kewajiban tanggung sosial lingkungan. Saatnya bertindak benar, demi keselamatan dunia dan segala isinya, saat ini dan di masa depan.
KOALISI UNTUK SELAMATKAN BUMI : MANIKAYA KAUCI, WALHI, PBHI BALI, YLBHI BALI, SOLIDARITAS KITA, FRONTIER, FMN, LMND, GMNI, RUMAH HIJAU.
March 12th, 2010 at 9:21 am
Hello, I found your blog in a new directory of blogs. I dont know how your blog came up, must have been a typo, Your blog looks good. Have a nice day.