Upaya Masyarakat Bali Memerangi Dampak Pariwisata Massal

Tuesday, July 7th, 2009

Hasil studi penjajagan yang dilakukan sebelum pembentukan simpul jaringan di wilayah Jawa-Madura-Bali menunjukkan adanya tiga isu yang sangat mendesak dan penting untuk ditangani. Isu tersebut adalah ‘Konservasi dan pemanfaatan tanaman pangan alternatif, ‘konservasi dan pemanfaatan tanaman obat’dan isu ‘ekowisata berbasis masyarakat.

Hasil studi tersebut telah direalisasi dengan terbentuknya tiga simpul jaringan dengan isu tersebut diatas di wilayah Jawa-Madura-Bali. Tulisan berikut khusus mengupas perkembangan kegiatan Simpul Jaringan Ekowisata yang saat ini difokuskan di pulau Bali.

Bali adalah salah satu provinsi yang menjadikan pariwisata sebagai ujung tombak perekonomiannya. Hal ini didukung oleh sumber daya alam dan keanekaragaman hayati serta kekayaan budayanya yang unik.

Dengan dikembangkannya fasilitas dan atraksi kepariwisataan di Bali, jumlah kunjungan wisatawan memang meningkat. Dalam kurun waktu lima tahun terakhir, para investor berlomba-lomba membangun resort dan fasilitas hotel berbintang guna meraup keuntungan yang didasarkan pada proyeksi kunjungan wisatawan yang terus meningkat. Perkembangan ini juga ditunjang oleh Peraturan Daerah No. 04/1996 serta Surat keputusan Gubernur Bali No. 528/1993 tentang penetapan 21 kawasan pariwisata di Bali dengan total luas kawasan sebesar 147.703 ha (25,56% luas pulau Bali).

Manusia dan alam kita terdesak

Perkembangan industri pariwisata di Bali yang cenderung ke arak pariwisata massal (mass tourism) tersebut, ternyata banyak menimbulkan permasalahan. Masyarakat yang tidak dilibatkan dalam proses pengembangannya, akhirnya terdesak baik secara ekonomi, budaya maupun lingkungan.

Hotel dan resort yang dibangun hingga ke pelosok Bali, banyak diantaranya dimiliki oleh pihak pendatang, sementara masyarakat Bali sendiri yang kepemilikan tanahnya kian terdesak tidak mendapatkan hasil dari pembangunan tersebut untuk penghidupan mereka. Secara perlahan tapi pasti, budaya Bali “terkontaminasi” untuk pemenuhan kebutuhan industri dan pasar semata. Dan sebagai akibatnyamasyarakat yang menjaga tradisi dan alamnya tidak mendapat keuntungan secara adil, sehingga muncul kecemburuan sosialdan keinginan untuk mengejar ketinggalan materialnya melalui pembukaan lahan hutan miliknya atau memanfaatkan sumber daya alam lainnya secara emosional. Di pihak lain, dunia usaha yang didukung kebijakan pemerintah setempat menjadi tidak terkendali, sehingga kegiatan usahanya kini sudah memasuki kantong-kantong sumber daya keanekaragaman hayati di Bali.

Masalah tersebut saling terkait dengan kepentingan ekonomi yang kental sebagai benang merahnya. Alam pun terpojok, sehingga keberadaan berbagai jenis ekosistem yang ada di Bali beserta segala fungsi yang dimilikinya terancam tidak berlanjut.

(more…)

Survey : Menggali Respon Masyarakat Terhadap Hubungan Polisi – Masyarakat

Monday, June 8th, 2009

Survey dilakukan dengan menggunakan metode FGD (focus group discussion)

Target Wilayah : 12 Desa

  • 6 Desa di wilayah Kabupaten Jembrana : (Asah Duren, Yeh Kuning, Air Kuning, Perancak, Melaya, Gilimanuk)
  • 6 Desa di wilayah Kabupaten Buleleng : (Kaliasem, Tegallinggah, Kampung Bugis, Pegayaman, Tembok, Sambirenteng)

Unsur Peserta :

  • Desa Adat : Pecalang, Bendesa Adat, Klian Banjar
  • Desa Dinas : Perangkat Desa, PKK, Karang Taruna Desa, Hansip, LPM, BPD
  • Kelompok Profesi : Kelompok Nelayan, Petani, Anggota FKPM Desa
  • Tokoh Masyarakat

Jumlah Peserta : Total 74 peserta

(more…)